gambaran umum pembelajaran bahasa arab Nahwu dan Sharaf sistem Kilat with Quantum Learning metode Ar-rasyid dengan pendekatan terjemah Al-quran
Gambaran Metode Ar-rasyid
1. Metode Ar-rasyid terdiri dari 3 Jilid
Jilid 1 (10 Jam Bisa menerjemahkan 15 Juz Al-quran dan bisa baca kitab kuning/
tanpa harokat 80%)
Jilid 2 (Syarah Jilid 1 M-A 15 Jam bisa menerjemahkan 30 Juz Al-quran dan bisa memahami nahwu dan
sharaf beserta I’rab tingkat menengah)
Jilid 3 (Syarah M-A Jilid 2, 15 jam lancar baca kitab ala Kyai)
2. Metode Ar-rasyid adalah penggabungan 2 metode belajar dunia (Eropa (Quantum
Learning) dan asia/ arabic (Mulazamah)). dan kami ramu menjadi Satu
3. Metode ini hasil resapan 200 metode belajar cepat yang tercatat dalam lembaga
mutu Kementrian Agama Indonesia yang kami teliti dan mengumpulkan saripatinya hampir 10 tahun lamanya
4. Pembelajaran Metode Ar-rasyid adalah pembelajaran cepat
gabungan belajar bahasa arab menggunakan pendekatan menerjemahkan Al-quran,
nahwu, sharaf dan tafsir quran dari segi bahasa
5. Metode ini cocok untuk segala usia dan sudah di terapkan
di beberapa pesantren di indonesia
6. Metode Ar-rasyid resmi di ajarkan di indonesia setelah mendapat rekomendasi dari lembaga mutu kementrian agama Indonesia dan menjadi metode belajar cepat di indonesia.
7. lebih dari 1.000 Alumni ini sudah merasakan manfaatnya
mulai dari anak tingkat sd, mahasiswa dalam dan luar negri, tanaga pengajar,
dosen dan para du'at.
Kenapa muda dan cepat?
Allah subhanahuwataa’la telah berjanji dalam quran
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ
فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
Terjemahan
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan,
maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
bahwan selain wahyu yang diturunkan juga dimudahkan
seperti, dimudahkan untuk dipelajarari, dihafal, dimengerti dan di amalkan.
Perlu di ketahui di dalam Al-quran menggunakan bahasa arab.
Dan kunci dasar bahasa arab terbagi
menjadi 3 yaitu
1. isim atau kata benda maupun sifat.
2. Huruf yang merupakan kumpulan 1 atau lebih huruf yang memiliki makna
3. adalah fi’il atau kata kerja.
Di
dalam al-quran salah satu fakta ilmiyah kenapa di dunia ini terjaga
keasliaannya dan banyak yang menghafal. karena di dalam al-quran banyak kata
pengulangan.
Dan dalam al-quran sendiri kami mengumpulkan kata-kata yang sering di ulang
yang kami namakan ‘Mabni’. Pengulangan tersebut sebanyak 34,4% atau setara
dengan 10,32 juz/ atau sepertiga dari
Al-quran. Yang di mana di buku kami terkumpul kosa kata tersebut hanya 2 lembar
saja yang insyaa Allah di jilid 1, 10 jam
pelatihan rata-rata peserta telah
menghafalnya dan ini menjadi modal dasar untuk memudahkan belajar bahasa arab
dan menghafal quran beserta terjemahannya.
Kenapa belajar menerjemahkan di mulai dari surat Al-Baqarah?
Belajar bahasa arab sambil menerjemahkan Al-quran kami memulai dari surat
Al-baqarah dimana surat Al-baqarah yang hanya terdiri dari 2 juz 4 lembar (24
lembar) Masyaa Allah ternyata adalah gudang kosa kata sebanyak 80% mewakili
kosa kata seluruh kata di dalam Al-quran (30 Juz)
berarti sisa 20% kosa kata lagi yang menjadi Pr kita untuk mahir menerjemahkan
seluruhnya
(Lanjut jilid 2 M-A)
Kenapa harus belajar bahasa arab menggunakan pendekatan menerjemahkan
Al-quran?
Pada prinsipnya jika kita belajar pada umumnya melalui kehidupan
sehari-hari. Seakan-akan kita hanya mendapat 1 keutamaan yaitu berjihad melawan
kebodohan untuk lebih mengerti bahasa ibadah kita.
jika kita belajar bahasa arab menggunakan pendekatan menerjemahkan Al-quran.
selain poin pertama yang sudah kita jelaskan juga kita mendapat plus keutamaan
yaitu
dalam hadits
عَن عُثَمانَ رَضِىَ اللٌهُ عَنهُ
قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صٌلَى اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلٌمَ خَيُركُم مَن تَعلٌمَ
القُرانَ وَعَلٌمَهَ . ) رواه البخاري وابو داود والترمذي والنسائ وابي ماجه هكذا
في الترغيب وعزاه الى مسلم ايضا لكن حكي الحافظ في الفضح عن ابي العلاء ان مسلما
سكت عنه ).
Dari Utsman RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya
kamu adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari, Abu
Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah).
Kenapa kami gencar mengenalkan metode ini dan merekomendasikan?
1. Indonesia adalah negara yang yang jumlah umat muslimnya terbesar di dunia
dan saat ini masyarakat kita mulai bergeser tentang bagaimana hakikat
pengaplikasian Al-quran dan seakan-akan quran itu adalah hanya sekedar di hafal
dan menjadi suatu kebanggaan
2. kita tahu di hadits yang shahih, generasi terbaik setelah nabi kita adalah
para sahabat, tabi’in dan taabi’uttabi’iin yang di sebut dengan salafu ummah
para sahabat Rodhiyalohu anhum ajma’in
Faktanya, Tidak semua sahabat menghafal Al-quran. Beberapa sahabat ada yang
hanya menghafal sekian juz saja, beberapa surat dll.
Tetapi kita lihat di dalam sirah nabi yang mulia beberapa surat yang mereka
hafal, mereka memahami tafsirnya, asbab turunnya dan hikmah ataupun kandungan
yang bisa di petik di dalamanya.
3. Renungan dan belajar berinteraksi quran dari para pendahulu
Perhatikan penuturan Abdurrahman As-Sulami berikut ini, saat menggambarkan cara
belajar para sahabat:
حدثنا الذين كانوا يقرئوننا القرآن،
كعثمان بن عفان وعبد الله بن مسعود وغيرهما أنهم كانوا إذا تعلَّموا من النبي -صلى
الله عليه وسلم- عشر آيات لم يجاوزوها حتى يتعلموا ما فيها من العلم والعمل،
قالوا: فتعلمنا القرآن والعلم والعمل جميعًا
“Telah menceritakan kepada kami orang-orang yang mengajarkan
kepada kami Al-Qur`an, seperti Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud dan selain
keduanya bahwa ketika mereka belajar 10 ayat (Al-Qur`an) dari Nabi, mereka
tidak menambah atau melewatinya hingga belajar ilmu dan amal di dalamnya.
Mereka (para guru kami) bertutur, ‘Kami (dulu) belajar Al-Qur`an beserta ilmu
dan amal sekaligus.”
1. Belajar tidak langsung banyak. Tapi sedikit demi sedikit.
Dalam hadits ini disebut 10 ayat.
2. Belajar mengenai ilmunya. Masuk di dalamnya pengertian
berikut yang terkait dengan apa saja tentang Al-Qur`an.
3. Setelah paham makna, kemudian disambung dengan
pengamalannya. Mereka tidak akan berlanjut pelajarannya sampai memahami dan
mengamalkannya. Begitu seterusnya. Sehingga mereka tidak sekadar menjadi orang
yang pintas terkait ilmu Al-Qur`an, tapi juga pandai mengamalkannya.
Selain ilmu dan amal, ada keterangan lain yang tak kalah
penting, yaitu: belajar tentang iman. Hudzaifah bin Al-Yaman menceritakan,
“Kami (para sahabat) belajar iman sebelum belajar Al-Qur`an. Kelak akan datang
suatu kaum pada akhir zaman yang mempelajari Al-Qur`an sebelum iman.” (HR.
Sa’id bin Mansur)
Jadi, cara sahabat belajar Al-Qur`an adalah dengan belajar
iman, ditempuh dengan secara bertahap (10 ayat), dimengerti makna-maknanya
(ilmunya) dan yang terakhir adalah mengamalkannya.
Olehnya itu kita lihat beberapa kajadian perang dalam sirah nabi banyaknya
penghafal quran yang gugur dalam beberapa momen peperangan karena mereka tahu
bahwa para pemikul quran itu tanggung jawabnya sangat berat dan merupakan aib
jika dalam kemashlahatan agama ini mereka memasang badang di baris kedua atau
di belakang.
ini menunjukan bahwa menghafal Al-quran di mana umumnya masyarakat kita yang
seakan-akan menjadi tujuan utama adalah keliru bahkan saat ini di negara kita
lagi boomnnya psantren tahfidz. Karena hakikat menghafal al-quran adalah tujuan
kesekian dari tujuan-tujuan pengaplikasian Al-quran di turunkan.
olehnya itu tujuan metode ini di rekomendasikan
agar mengajak masyarat muslim untuk kembali kepada Al-quran dan as-sunnah dalam
konteks al-quran untuk apa di turunkan, di aplikasikan dan tahapan belajarnya
(Tashil).
Menjadi aib yang besar kita umat islam yang begitu sibuk dengan pendidikan
dunia yang subhanalloh kurikulumnya hampir sampai ke langit, sedang ilmu agama
sangat dangkal dan lebih rendah dari pemahaman ibadahnya anak yang masih di
sekolah dasaar
dan bagaimana munkin kita yang bercita-cita untuk bisa masuk kedalam surganya
dan khusuh dalam ibadah, sedang bahasa ibadah yang kita kerjakan kita tidak
tahu maknanya.
Al-quran bukan hanya sebagai pemahaman umum. Lebih dari itu supaya kita menjadi
insan yang berkualitas dari segi pemahaman meski yang merasa terambat dan
berumur dan baru mempelajari dengan serius agama in Insyaa Allah akan di
mudahkan dengan metode belajar cepat ini biidznillah.
Saudaramu yang faqir, Abu Harun Ar-rasyid.
0 Comments